Grace and Truth

This website is under construction !

Search in "Indonesian":

Home -- Indonesian -- 04. Sira -- 3 - Growing resistance of Mecca towards Muhammad

This page in: -- Chinese -- English -- French? -- German -- INDONESIAN -- Portuguese -- Russian

Previous book -- Next book

04. KEHIDUPAN MUHAMMAD MENURUT IBN HISHAM

03 - Meningkatnya PERLAWANAN Mekah terhadap Muhammad -- (616 sampai 619 M)

Meningkatnya boikot yang dilakukan oleh orang Mekah -- Visi Muhammad akan kenaikannya ke Surga



3.01 -- Meningkatnya PERLAWANAN Mekah terhadap Muhammad -- (616 sampai 619 M)

Menurut Muhammad Ibn Ishaq (meninggal 767 M) diedit oleh Abd al-Malik Ibn Hischam (meninggal 834 M)

Sebuah terjemahan yang diedit dari bahasa Arab, aslinya di-tulis oleh Alfred Guillaume

Sebuah seleksi dengan anotasi oleh Abd al-Masih dan Salam Falaki

3.02 -- Meningkatnya boikot yang dilakukan oleh orang Mekah (dimulai sekitar 616 M)

3.02.1 --Konversi Umar ibn al-Khattab (sekitar 616 M)

Ketika Amr ibn al-‘As dan Abd Allah ibn Abi Rabi‘a kembali dari Abyssinia, tidak berhasil menyelesaikan hal-hal yang mereka inginkan, dan bahkan Hamza dan Umar ibn al-Khattab telah memeluk Islam – orang yang terakhir adalah seorang pria yang kuat dan penuh kuasa, yang tidak seorangpun berani bertarung dengannya – sahabat Muhammad merasa cukup kuat untuk menghadapi suku Quraishy.

Abd Allah ibn Mas‘ud melaporkan: “Sampai saat konversi Umar, kami tidak dapat shalat di Kabah. Ketika Umar* memeluk Islam, dia mulai memerangi suku Quraishy, sampai ia dapat shalat di Kabah dan kami juga bersama dia.” Konversi Umar terjadi setelah emigrasi para sahabat Muhammad.

* Umar, yang belakangan menjadi kalifah kedua, adalah seorang yang ter-pelajar, dapat dibandingkan dengan Rasul Paulus dalam kedinamisannya. Setelah kematian Muhammad, Umar dan pasukannya membawa Islam ke dalam Afrika Utara dan Asia Tengah. Dia menaklukkan Yerusalem dan membahayakan pusat kekristenan terhadap Islam. Dia adalah seorang misionaris Muslim kepada bangsa-bangsa – tidak mendapatkan kemenangan dengan menggunakan kata-kata, namun dengan pedang!

Abd al-Rahman ibn al-Harith (yang mendengar dari ibunya, putri dari Abi Hathma) menjelaskan: “Demi Allah, kami ingin pergi ke Abyssinia. Amir telah pergi untuk mengambil sesuatu sewaktu Umar ibn al-Khabbab datang, yang pada saat itu masih seorang politeis dan yang sering mempermalukan dan menyinggung kami. Dia tetap berdiri di hadapanku dan berkata: ‘Jadi engkau pergilah, ibu dari Abd Allah!’ Saya menjawab: “Ya, kami ingin pergi ke tanah Allah sehingga Allah menolong kita, karena engkau telah menunjukkan kekerasan kepada kami dan menambahkan penghinaan.’ Dia menjawab: ‘Kiranya Allah menyertai engkau!’ dan berlalu. Saya mendeteksi simpati di dalam penampilannya, yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Dia terlihat terganggu dengan kepergian kami. Ketik Amir kembali dengan apa yang ia telah ambil, saya berbicara dengan dia: ‘Engkau seharusnya barus aja melihat Umar, bagaimana ia kelihatan begitu tersentuh dan sedih demi kami.’ Lalu dia menjawab: ‘Apakah engkau berharap dia akan menjadi mualaf?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Dia menjawab: ‘Dia yang baru saja engkau lihat tidak akan menjadi mualaf sebelum keledai-keledai al-Khattab melakukannya.’ Dia bersikap skeptis tentang dia akan menjadi mualaf, karena dia selalu merasa Umar kasar dan keras terhadap iman Islam.”

Konversi Umar terjadi cara berikut: Adik perempuannya Fatima, yang merupakan istri dari Sa‘id ibn Zaid ibn Amr ibn Nufail, telah masuk Islam bersama dengan suaminya, namun secara diam-diam karena takut akan Umar. Demikian juga Nu‘aim ibn Abd Allah al-Nahham, yang berasal dari Banu ‘Adi ibn Ka‘b, telah masuk Islam, namun dikarenakan ketakutannya terhadap sukunya telah secara rahasia berpegang pada imannya. Khabbab ibn al-Arat mendatangi adik perempuan Umar untuk mengajarinya Quran. Suatu hari Umar pergi menemui Muhammad dengan menyandang pedang yang melengkung, yang telah mengumpulkan sekitar empat puluh orang di sekelilingnya, pria dan wanita, dalam sebuah rumah dekat Safa. Di antara mereka juga terdapat pamannya Hamza, Abu Bakr, Ali dan lainnya yang tetap bersamanya di Mekah dan tidak beremigrasi.

Nu‘aim ibn Abd Allah bertemu Umar dan bertanya kepadanya kemana ia akan pergi. Umar menjawab: “Aku ingin membunuh Muhammad sang murtadin, yang telah memecah belas suku Quraishy, menyatakan mereka sebagai orang-orang bodoh, mencaci iman mereka dan menghujat ilah-ilah mereka.” Nu’aim kemudian berkata: “Demi Allah, Umar, engkau terburu-buru menghampiri kehancuran. Apakah pikirmu putra-putra Abd Manaf akan mengijinkan engkau mengembara di bumi jika engkau telah membunuh Muhammad? Bukankah lebih baik bila engkau kembali kepada keluargamu sendiri dan membereskan masalah-masalah mereka?” Umar menjawab: “Siapa yang engkau maksudkan dengan ‘keluargaku sendiri’?” Nu’aim menjawab: “Ipar laki-lakimu dan sepupumu Sa’id ibn Amr dan adik perempuanmu Fatima. Demi Allah, mereka telah berpindah kepada Islam dan mengikut Muhammad. Lebih baik anda lebih dahulu prihatin terhadap mereka!” Sesudah itu Umar berbalik dan pergi ke tempat tinggal ipar lelakinya. Di sana telah ada Khabbab ibn al-Arat dengan buku yang berisi Surah ke 20, Ta-Ha*, yang sedang ia ajarkan kepada mereka. Ketika mereka mendengar suara Umar, Khabbab menarik diri dan Fatima menyembunyikan kitab tersebut di dalam pakaiannya. Namun ketika mendekati rumah tersebut, Umar telah mendengar bagaimana Khabbab telah membacakannya untuk mereka. Begitu Umar masuk, ia berkata: “Gumaman apa yang aku dengar?” Mereka berkata: “Engkau tidak mendengar apapun juga.”

* Beberapa Surah dimulai dengan huruf-huruf yang samar, yang mana artinya tidak ada yang tahu – bahkan bagi orang-orang Muslim. Surah Ta-Ha adalah salah satunya.

Dia menjawab: “Tentu saja! Aku juga, demi Allah, telah mendengar bahwa engkau mengikuti iman Muhammad.” Setelah itu dia memukul kakak iparnya pada wajahnya, dan pada saat kakak perempuannya berdiri di antara mereka ia juga memukul dan melukainya. Pada saat itu mereka berdua mengaku: “Ya, kami telah menjadi Muslim. Kami percaya kepada Allah dan rasulnya. Sekarang lakukanlah apa yang menurutmu baik!”

Ketika Umar melihat kakak perempuannya berdarah, dia menjadi menyesal dan bingung atas apa yang telah ia lakukan. Dia berkata kepadanya: “Berikanlah buku yang aku dengar kamu baca. Aku ingin melihat apa yang Muhammad bawakan untukmu.” – Umar, pada kenyataannya, terpelajar. Fatima menjawab: “Kami takut engkau ingin merusaknya.” Namun Umar memberikan jaminan: “Jangan takut!” Umar lalu bersumpah demi ilah-ilahnya bahwa ia akan mengembalikan kepadanya setelah ia telah membacanya.

Karena kata-kata tersebut Fatima berharap ia akan bertobat, dan karena alasan tersebut ia berkata kepada Umar: “Sebagai seorang politeis engkau najis. Kitab ini hanya dapat disentuh oleh seseorang yang bersih.” Umar lalu berdiri dan mem-bersihkan dirinya sendiri. Fatima lalu memberikan kepadanya buku tersebut yang di dalamnya tertulis surah Ta-ha. Ketika ia telah membaca pembukaanya Umar berteriak: “Betapa indah dan terpuji kata-kata ini!” Ketika Khabbab mendengar hal ini, dia juga memasuki ruangan dan berkata: “Demi Allah, Umar, saya berharap Allah telah memilikih anda melalui doa dari nabinya. Bahkan kemarin saya mendengarnya berdoa: “Allah, perkuatlah Islam melalui Abu al-Hakam ibn Hisham atau me-lalui Umar ibn al-Khattab.” Oleh karena itu, Umar, sekarang berbaliklah kepada Allah!” Umar menjawab: “Pimpinlah aku kepada Muhammad, supaya aku dapat bertobat di hadapannya.” Khabbab berkata: “Dia bersama beberapa orang sahabat di rumah di Safa.”

Umar mengencangkan pedang di sisinya dan kemudian pergi ke rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Salah satu sa-habat Muhammad melihat melalui lubang di pintu. Ketika ia melihat Umar dengan pedang di sisinya, dia dengan ketakutan berlari kepada Muhammad dan melaporkan hal tersebut kepadanya. Hamza ibn Abd al-Muttalib kemudian berkata: “Biarkan ia masuk. Jika ia memiliki sesuatu yang baik di dalam pikirannya, maka kita akan membalasnya. Jika ia datang dengan niat jahat, kita akan memenggal kepalanya dengan menggunakan pedangnya sendiri.” Muhammad mengijinkan Umar masuk, berdiri dan mendatanginya di pintu depan. Muhammad memegangnya pada sabuk atau kerah, menariknya ke dalam dirinya sendiri dan berkata: “Apa yang membawamu ke sini, putra Khattab? Demi Allah, aku berpikir bahwa engkau tidak akan beristirahat sampai Allah mengirimkan kesulitan-kesulitan kepadamu.” Umar berkata: “Rasul Allah, aku telah datang untuk mengakui bahwa aku percaya kepada Allah dan rasulnya dan pada mereka yang kepadanya ia telah dinyatakan dari Allah.” Muhammad berteriak: “Allah lebih besar!” Semua yang berkumpul di dalam rumah tersebut mengakui bahwa Umar telah menjadi seorang Muslim.

Sahabat-sahabat Muhammad kemudian berangkat, merasa diperkuat oleh pertobatan Umar dan Hamza. Mereka mengetahui bahwa keduanya akan menjaga Muhammad dan memastikan bahwa hak-hak mereka dijaminkan di hadapan musuh-musuhnya.

3.02.2 -- Keteguhan Umar di dalam iman Islam

Nafi’, seorang yang dibebaskan oleh Abd Allah ibn Umar, memberitahukan kepadaku tentang Umar: “Setelah Umar berpindah agama ke Islam, dia bertanya: ‘Siapa dari suku Quraishy yang mengerti tradisi dengan terbaik?’ Ketika dia diberitahu tentang Jamil ibn Ma’mar al-Jumahi, dia menghampirinya pada pagi hari dan dikatakan oleh Ibn Umar, ‘Saya mengikut dia untuk melihat apa yang akan dia lakukan. Aku adalah seorang bocah laki-laki yang mengerti apa yang ia lihat. Ketika ia menhampiri Jamil, dia berkata: “Apakah engkau tahu bahwa aku telah menjadi seorang Muslim dan mengikuti iman dari Muhammad?” Jamil tidak memberikan jawabn, tetapi menutup pakaian luarnya dan pergi ke ruang kudus di suku Quraishy berkumpul. Aku mengikutinya bersama dengan Ayahku. Di sini ia memanggil dengan suara lantang: ‘Putra al-Khattab telah menjadi seorang murtadin!’ Namun, Umar menjawabnya: ‘Dia berbohong. Aku telah menjadi seorang Muslim dan mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah budak dan rasulnya.’”

Suku Quraishy menindihnya dan berkumpul untuk berkelahi di antara mereka sampai matahari sudah tinggi di atas kepala-kepala mereka. Umar kemudian menjadi lelah dan terduduk. Suku Quraishy berkumpul di sekitarnya dan Umar berkata: ‘Lakukanlah yang menurut kalian baik, tetapi, demi Allah, jika kami berjumlah tiga ratus pria dewasa kami akan bertempur sedemikian lama sampai entah kalian atau kami yang akan meninggalkan tempat ini.’ Ketika mereka sedang bertengkar demikian datanglah seorang tua dari suku Quraishy yang mengenakan pakaian luar dari kain yang berasal dari Yaman dan pakaian dalam yang berwarna-warni. Ketika ia berdiri di hadapan mereka, ia bertanya apa yang sedang terjadi. Seseorang menjawab bahwa Umar telah menjadi seorang pemurtad. Lalu ia berkata: ‘Tinggalkanlah dia! Dia telah memilih iman bagi dirinya sendiri, apa lagi yang kalian inginkan? Mungkin kalian berpikir bahwa Banu ‘Adi ibn Ka’b akan mengantar musuh mereka kepada kalian?’ Dan, demi Allah, mereka adalah seperti kami yang yang telah dilepaskan dari dirinya.

Abd al-Rahman ibn al-Harith melaporkan kepadaku tentang seorang istri atau dari seorang lain dari keluarga Umar. Umar dikatakan telah mengatakan: “Pada malam pertobatanku saya sedang berkontemplasi siapa yang mungkin menjadi musuh terburuk dari Muhammad. Saya menetapkan hati untuk mendatanginya dan memberitahukannya bahwa saya telah menjadi seorang Muslim. Saya menemukan bahwa orang tersebut adalah Abu Jahl dan lalu pergi pagi hari berikutnya ke rumahnya dan mengetuk pintu.

Abu Jahl keluar dan berteriak: “Selamat datang, sepupuku! Apa yang membawamu ke sini?’ Saya menjawab: ‘Aku telah datang untuk memberitahumu bahwa aku telah menjadi seorang Muslim, bahwa aku percaya kepada Allah dan kepada Muhammad, rasulnya, dan bahwa aku menganggap pewahyuannya adalah benar.’ Abu Jahl lalu membanting pintu di depan wajahku dan berkata: ‘Kiranya Allah mempermalukan engkau dan rasulmu!’”

3.02.3 -- Di dalam Ngarai Abu Talib

Ketika suku Quraishy melihat bahwa sahabat-sahabat Muhammad telah menemukan peristirahatan, keamanan dan perlindungan dengan para Najasyi, bahwa Umar telah pindah kepada Islam dan bahwa Hamza juga berpegang kepada Muhammad – dan bahwa Islam secara gradual menyebar di antara banyak suku, mereka datang bersama dan menetapkan untuk membuat contoh dari dokumen di mana di dalamnya mereka menugaskan diri mereka sendiri untuk tidak menikah dan berdagang dengan Bani Hashim. Persetujuan ini dipasang di dalam Ka’bah untuk memperkuat perjanjian mereka.

Lalu Bani Hashim dan Muttalib mundur ke dalam ngarai Abu Talib. Hanya Abu Lahab ibn Abd al-‘Uzza ibn Abd al-Muttalib yang memisahkan diri dari putra-putra Hashim dan men-dukung suku Quraishy. Husain ibn Abd Allah menjelaskan: “Ketika Abu Lahab meninggalkan kelompoknya dan menjadi sahabat suku Quraishy, ia menemui Hind, putri ‘Utba ibn Ra-bi’a, dan berkata kepadanya: ‘Sekarang, putri ‘Utba, tidakkah pernah aku membantu Lat dan Uzza dan tidakkah pernah aku menolak mereka yang menentang engkau?’ Dia menjawab: ‘Tentu saja, ayah dari ‘Utba, Allah akan memberi penghar-gaan kepadamu.’ Lebih lanjut, Abu Lahab dikabarkan telah mengatakan, di antara banyak hal: ‘Muhammad menjanjikan hal-hal setelah kematian dan keberadaan hal-hal tersebut yang di mana, kelihatannya bagiku, bahkan dia tidak mem-percayainya. Apa yang akan dia berikan ke dalam tanganku?’ Dia kemudian meniup tangannya dan berkata: ‘Kiranya engkau datang untuk hancur! Aku tidak melihat apapun yang Muhammad katakan.’ Allah kemudian mewahyukan: ‘Kiranya kedua tangan Abu Lahab lenyap!’” (Surah al-Masad 111:1).

Untuk dua atau tiga tahun orang-orang Muslim tinggal di ngarai ini dengan kondisi sangat tertekan, karena sahabat mereka di antara suku Quraishy tidak dapat menyediakan bagi mereka secara rahasia. Suatu kali, Abu Jahl bertemu Hakim ibn Hizam ibn Khuwailid dan pembantunya, yang se-dang membawa bebijian. Hakim ingin membawakannya kepada tantenya Khadijah, putri Khuwailid, yang bersama-sama dengan Muhammad, suaminya, sedang tinggal di ngarai tersebut. Abu Jahl memegangnya dengan kuat dan berteriak: “Apakah engkau hendak membawa makanan kepada putra-putra Hashim? Demi Allah, engkau dan makananmu, engkau tidak akan pergi satu langkahpun; engkau lebih baik memilih untuk mengikuti aku ke Mekah di mana aku akan mempermalukan engkau berdua.”

Abu al-Bakhtari ibn Hashim kemudian muncul dan bertanya: “Apa yang engkau miliki?” Abu Jahl membalas: “Dia ingin membawa makanan kepada Bani Hashim.” Abu al-Bahktari kemudian berkata: “Itu adalah makanan yang dititipkan oleh tantenya kepadanya dan sekarang ia menginginkannya kem-bali. Apakah engkau ingin menghindarkan dia dari membawa kembali makanannya sendiri? Tinggalkanlah pria itu dalam damai!” Namun Abu Jahl menolak, sehingga terjadi pemuku-lan. Abu al-Bakhtari mengambil sebuah tulang rahang seekor unta dan melukai Abu Jahl dengannya. Lebih lanjut lagi, ia menendangnya dengan sangat kuat. Hamza, yang berdiri di dekatnya, mengamati segalanya. Hal ini menganggu kedua orang yang sedang bertarung, karena Muhammad dapat mendengarnya dan menikmati hal tersebut.

3.02.4 -- Abu Lahab, Paman Muhammad, dan istrinya Umm Jamil

Ketika Allah sedang melindungi Muhammad dari suku Quraishy, dan Bani Hashim, Bani Muttalib dan pamannya juga sedang menghalangi mereka membahayakan Muhammad, suku Quraishy melanjutkan pemfitnahan dan menunjukkan kebencian kepadanya. Sehingga pewahyuan mulai muncul di dalam Quran menentang suku Quraishy dan terhadap mereka yang terutama melawan Muhammad. Sebagian mereka disebutkan nama dan bagian lainnya termasuk di antara seluruh orang-orang tidak percaya. Kepada bagian pertamalah Abu Lahab, paman Muhammad, menjadi bagian, dan juga istrinya Umm Jamil, putri dari Harb, sang “pembawa kayu bakar”. Ia mendapat nama tersebut karena ia akan menaruh kayu berduri di jalan yang dilalui Muhammad. Oleh sebab itu dikatakan dalam Quran: “1 Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! 2 Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. 3 Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). 4 Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). 5 Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal!”* (Surah al-Masad 111:1-5).

* Surah Muhammad yang berisi kutukan dan balas dendam terhadap pamannya Lahab dan istrinya adalah sebuah contoh roh dalam Islam, yang tidak memberkati, tetapi mengutuki musuh-musuhnya, yang tidak mengasihi, tetapi membenci lawan-lawannya (Surah al-Masad 111:1-5).
Yesus mengajarkan kebalikannya: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:44; Lukas 6:35).

Ketika Umm Jamil menyadari wahyu mengenai dirinya dan suaminya, dia dilaporkan telah mendatangi Muhammad dengan sebuah batu besar di tangannya, yang sedang duduk bersama Abu Bakr di Ka’bah. Ketika Umm Jamil berdiri di hadapan mereka, Allah membutakannya sehingga ia tidak dapat melihat Muhammad. Umm Jamil bertanya kepada Abu Bakr: “Dimanakah sahabatmu? Aku telah mendengar ia mengkritikku. Demi Allah, jika aku bertemu dengannya, aku akan memukulnya dengan batu ini pada mulutnya!”

Ketika Umm Jamil telah pergi, Abu Bakr berkata kepada Muhammad: “Apakah menurutmu ia melihatmu?” Muhammad menjawab: “Dia tidak melihatku: Allah membuatku tidak kelihatan terhadap dia.”

3.02.5 -- Larangan mengejek para dewa

Suatu ketika, sebagaimana diberitahukan kepadaku, Abu Jahl bertemu dengan Rasul Allah dan berkata kepadanya: “Berhentilah sekarang dan selamanya dari mencaci dewa-dewa kami, atau kami juga akan mencaci dewa yang engkau sembah.” Kemudian Allah mewahyukan: “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.” (Surah al-An’am 6:108). Muhammad segera berhenti mencaci dewa-dewa mereka, namun memerintahkan setiap orang untuk percaya kepada Allah.*

* Di sini kita menjumpai kepandaian diplomatik Muhammad. Dia menutupi sisi negatif dari kebenaran untuk memungkinkan penyebaran sisi positif dari pesannya tanpa halangan.

3.02.6 -- Mereka yang akan menjadi bahan bakar neraka

Setiap Muhammad memulai membacakan Quran dalam se-buah pertemuan dan mengajak suku Quraishy untuk percaya kepada Allah, memperingatkan mereka akan nasib dari bangsa-bangsa sebelumnya, selalu tentang Al-Nadr ibn al-Harith akan mulai memberitahu mereka tentang Rustem yang perkasa dan tentang Isfendiar, raja-raja Persia. Dia kemudian menambahkan: “Demi Allah, cerita-cerita Muhammad tidak lebih indah dari yang aku punya. Cerita-cerita itu, juga diduplikasi dari buku-buku tua sama seperti cerita-ceritaku.”

Allah kemudian mewahyukan: “5 Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” 6 Katakanlah (Muhammad), “(Al-Qur'an) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Surah al-Furqan 25:5-6). “7 Celakalah bagi setiap orang yang banyak ber-dusta lagi banyak berdosa, 8 (yaitu) orang yang mendengar ayat-ayat Allah ketika dibacakan kepadanya namun dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka peringatkanlah dia dengan azab yang pedih.” (Surah al-Jathiya 45:7-8). “151 Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongannya mereka benar-benar mengatakan, 152 ”Allah mempunyai anak.” Dan sungguh, mereka benar-benar pendusta.”* (Surah al-Saffat 37:151-152)

* Pergulatan teologis antara Muslim dan Kristen terus menerus meningkat selama masa peningkatan penolakan Muhammad terhadap politeisme. Dia mendeskripsikan orang Kristen sebagai pembohong, karena mereka percaya pada Anak Allah. Kemudian dia mengutuk mereka di dalam kemarahannya. (Surah Al ‘Imran 3:61, al-Tawba 9:29-30).

Suatu hari, Muhammad sedang duduk dengan Walid ibn al-Mughira dan suku Quraishy yang lain di sekitar Ka’bah. Al-Nadr ibn al-Harith datang dan duduk bersama mereka. Muhammad berbicara sebentar dan al-Nadr berdebat dengannya. Muhammad akhirnya mendiamkannya dan membacakan ayat berikut dari Quran: “98 Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya. 99 Seandainya (berhala-berhala) itu tuhan, tentu mereka tidak akan memasukinya (neraka). Tetapi semuanya akan kekal di dalamnya. 100 Mereka merintih dan menjerit di dalamnya (neraka), dan mereka di dalamnya tidak dapat mendengar.” (Surah al-Anbiya’ 21:98-100).

Ketika Muhammad baru saja berdiri, datanglah Abd Allah ibn al-Ziba’ri, dari suku Samit, dan duduk di antara yang lainnya. Al-Walid ibn al-Mughira kemudian berkata kepadan-ya: “Al-Nadr belum juga duduk di antara kita tetapi Muhammad mengklaim kami dan semua yang kami sembah selain Allah akan menjadi bahan bakar neraka.” Abd Allah kemudian menjawab: “Demi Allah, jika aku bertemu dengannya aku akan berselisih dengannya. Bertanya kepadanya jika benar semua yang disembah selain daripada Allah akan datang ke neraka, termasuk dia yang menyembahnya. Kami menyembah para malaikat, Ezra* orang Yahudi dan Yesus orang Kristen.” Pembicaraan Abd Allah menyenangkan al-Walid dan yang lainnya. Mereka gembira dia memiliki bukti melawan apa yang Muhammad bersikeras. Ketika Muhammad mendengar apa yang Abd Allah telah katakan, dia menjawab: “Hanya mereka yang ingin disembah selain daripada allah yang akan dibakar, bersama-sama dengan mereka yang menyembah mereka.”** Suku Quraishy menyembah Setan-setan (Tawagit) dan berhala-berhala, yang ingin disembah oleh mereka.” Pada saat itu Allah mewahyukan kepadanya: “101 Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka). 102 Mereka tidak mendengar bunyi desis (api neraka), dan mereka kekal dalam (menikmati) semua yang mereka ingini.” (Surah al-Anbiya’ 21:101-102) – misalnya – Yesus, Ezra, para rabi dan imam, yang mati dalam ketaatan kepada Allah.

* Orang Yahudi kadang-kadang menghormati Ezra begitu tinggi sehingga orang luar salah mengartikan ini sebagai penyembahan.
** Penyembahan Kristus (Wahyu 5:12) menggambarkan kekejian bagi Muslim. Menurut pengertian Islami, penghukuman yang diancamkan di dalam api neraka yang kekal juga termasuk orang-orang Kristen yang menyem-bah Yesus.

Mengenai tuntutan bahwa mereka menyembah para malaikat, yang adalah putri-putri Allah, wahyu datang: “26 Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, 27 mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (Surah al-Anbiya’ 21:26-27).

Mengenai Yesus datanglah jawabannya: “'59 Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai contoh pelajaran bagi Bani Israil. 61 Dan sungguh, dia (Isa) itu benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (Kiamat) itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus'.” (Surah al-Zukhruf 43:59 and 61). Mujizat yang aku selesaikan melaluinya, seperti membangkitkan orang mati dan menyembuhkan yang sakit, adalah bukti yang cukup untuk saat itu.* Oleh sebab itu janganlah ragu!

* Kristus dan mujizat-mujizat-Nya dihitung sebagai tanda kedatangan penghakiman Allah di dalam Islam!

3.02.7 -- Mengenai kebangkitan orang mati

Ubayy ibn Khalaf dan Uqba ibn Abi Muit adalah sahabat karib. Suatu hari Ubayy mendengar bahwa Uqba telah duduk bersama Muhammad dan mendengarkannya. Oleh sebab itu ia mendatanginya dan berkata: “Aku telah mendengar bahwa engkau pergi menjumpai Muhammad dan mendengarkannya. Jika benar yang aku dengar ini maka aku bersumpah bahwa aku tidak akan menjumpaimu lagi dan tidak akan berbicara denganmu sampai engkau pergi menjumpai Muhammad dan meludahi wajahnya.” Uqba – kiranya Allah mengutuk dia! – musuh Allah, yang melakukan hal ini. Oleh sebab itu Allah yang ditinggikan mewahyukan: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zhalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.”” (Surah al-Furqan 25:27).

Suatu waktu Ubayy pergi menjumpai Muhammad dengan membawa sebuah tulang tua dan menanyainya jika ia benar-benar percaya bahwa tulang tersebut akan dibangkitkan. Dia menghancurkannya dengan tangannya dan meniup debunya ke udara. Muhammad menjawab: Tentu tulang ini dan juga dirimu sendiri – ketika engkau berada dalam keadaan yang sama – Allah akan membangkitkan engkau dan membawamu ke neraka”*

* Lihat Surah Ya-Sin 36:78.

3.02.8 -- Perselisihan antara Muhammad dan penyembah berhala suku Quraishy

Ketika Muhammad sedang mengitari Ka’bah suatu hari, al-Aswad ibn al-Muttalib, Walid ibn al-Mughira, Umaiyya ibn Kha-laf dan al ‘As ibn Wa’il – orang-orang yang dihormati di antara suku Quraishy – berdiri di hadapannya dan berkata: “Baiklah, Muhammad, kami ingin menyembah Allahmu. Oleh sebab itu engkau juga menyembah ilah-ilah kami, sehingga kita semua dapat berdoa bersama-sama. Jika yang engkau sembah lebih baik, kemudian anda juga akan mendapat bagian daripadanya. Allah kemudian mewahyukan: “1 Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! 2 aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah…”” (Surah al Kafirun 109:1-2).

3.02.9 -- Pohon Zaqqum di dalam neraka

Karena pohon Zaqqum didiskusikan di dalam Quran, untuk mengancam orang-orang yang tidak percaya, Abu Jahl berkata: “O Suku Quraishy, apakah engkau tahu apakah pohon Zaqqum itu, yang digunakan Muhammad untuk mengancam engkau? Mereka adalah kurma dari Medina dengan mentega. Demi Allah, jika kami mampu mendapatkan Zaqqum ini kami akan dengan pasti dapat menikmati rasanya.” Allah kemudian mewahyukan: “43 Sungguh pohon zaqqum itu, 44 makanan bagi orang yang banyak dosa. 45 Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut, 46 seperti mendidihnya air yang sangat panas.” (Surah al-Dukhan 44:43-46).* Tuntutan Abu Jahl adalah salah.

* Kontras dengan Surah al-Saffat 37:62 dan al-Waqi‘a 56:52.

3.02.10 -- Mengenai Ibn Umm Maktum – yang buta

Dalam suatu kesempatan, ketika Muhammad sedang mencoba memenangkan Walid Ibn al-Mughira untuk Islam dalam sebuah percakapan, Ibn Umm Maktum yang buta datang. Dia juga berbicara dengan Muhammad, dan memintamnya untuk membaca dari Quran. Namun bagi Muhammad, pertanyaan-pertanyaan dari orang buta tersebut menganggu, karena ia lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan Walid, yang pertobatannya sangat dinantikan dengan bernafsu. Ketika pria buta tersebut ingin mendengar lebih banyak darinya, Muhammad dengan marah berpaling darinya dan meninggalkannya berdiri di sana.*

* Berbeda dengan Yesus, yang meninggalkan orang ramai berdiri, berpaling kepada orang buta dan mencelikkan matanya melalui perkataan-Nya yang penuh kuasa. (Markus 10:46-52). Muhammad tidak memiliki kuasa untuk menyembuhkan. Dia mencari untuk memenangkan yang kuat bagi dirinya sendiri dan bagi Islam, tetapi bukan yang lemah dan sakit. Dia meninggalkan pria yang buta untuk meneruskan perbincangan dengan yang berpengaruh. Namun Yesus, datang dengan sengaja kepada yang miskin, yang sedih, yang sakit, yang lemah, dan orang-orang berdosa untuk mem-bantu mereka. (Matius 11:25-30).
Dalam Surah ‘Abasa 80:1-11 kita membaca bahwa Muhammad ditegur karena perilakunya terhadap orang buta tersebut!

3.02.11 -- Mengenai mereka yang kembali dari Ethiopia

Para sahabat Muhammad yang telah pergi ke Ethiopia pernah sekali mendengar sebuah desas-desus bahwa orang-orang Mekah telah bertobat memeluk Islam. Oleh sebab itu mereka bersiap untuk kembali. Hanya pada saat mereka tiba di sekitar Mekah mereka mendengar bahwa hal itu adalah sebuah desas desus palsu. Karena alasan itu mereka dapat memasuki Mekah secara sembunyi-sembunyi. Beberapa dari mereka tetap tinggal di dalam kota sampai kepindahan Muhammad ke Medina dan bertarung di sisinya di Badr dan Uhud. Yang lainnya ditahan, sehingga Badr dan pertempuran-pertempuran lainnya dihindarkan dari mereka. Beberapa yang lainnya meninggal di Mekah. Secara keseluruhan terdapat 33 pria yang kembali dari Ethiopia.*

* Ibn Hisham menyembunyikan fakta bahwa Muhammad, pada saat boikot dari orang Mekah meningkat, berada dalam momen yang lemah, di mana ia mengakui, ditambah Allah, Lat, Uzza dan Manat sebagai ilah wanita – bahkan melegitimasi keberadaan mereka melalui pewahyuan ilahi (Surah al-Najm 53:19-21 dan al-Hajj 22:52-53). Belakangan Muhammad menolak ayat-ayat ini sebagai bisikan Setan. Namun ayat-ayat Setan ini, tetap men-jadi bagian dari Quran sampai hari ini.
Ketika pencari suaka di Ethiopia mendengar bahwa Muhammad telah mengijinkan politeisme terbatas, mereka memutus masa menetap mereka di negeri asing, berkeinginan kembali ke Mekah. Namun ketika mereka tiba di rumah Muhammad telah menarik kembali kompromi dengan para musuh-musuhnya sebagai sebuah wahyu palsu. Dia tidak dapata membedakan antara bisikan Setan dengan suara Allah yang sejati. Pernyataan Muhammad ini membuka pertanyaan apakah ada ayat-ayat lain di dalam Quran yang berasal dari Setan.

3.02.12 -- Mengenai keberanian Uthman

Salih ibn Ibrahim ibn Abd al-Rahman ibn Auf melaporkan kepadaku sesuatu yang ia dengar dari seseorang yang Uthman sendiri telah diberitahukan: “Uthman ibn Maz’un melihat bagaimana para sahabat Muhammad menderita, sementara ia sendiri, di bawah perlindungan Walid, dapat pergi keluar kapanpun ia mau. Dia lalu berkata: Demi Allah, hatiku merasa sakit karena aku hidup di bawah perlindungan seorang penyembah berhala, sementara para kawan dan sahabat di dalam iman menderita segala macam kesulitan dan ketid-akadilan karena kepercayaan mereka kepada Allah.’ Oleh sebab itu, ia pergi kepada Walid dan berkata: ‘Perlin-dunganmu telah terbukti. Namun di masa depan aku tidak akan menerima klaimnya.’ Al-Walid bertanya: ‘Mengapa begitu, sepupuku? Apakah seseorang dari sukuku mengecilkan engkau?’ Dia menjawab: ‘Tidak, tetapi aku puas dengan perlindungan dari Allah dan tidak membutuhkan perlindungan lebih lanjut.’ Terhadap hal tersebut Walid membalas: ‘Kalau begitu pergilah bersamaku ke Ka’bah dan secara terbuka melepaskan dirimu dari perlindunganku, sebagaimana aku telah secara terbuka berikan kepadamu.’ Bersamaan dengan itu mereka pergi ke tempat suci dan Walid berkata: ‘Uthman telah datang untuk melepaskan perlindungan yang telah aku berikan kepadanya.’ Uthman menambahkan: ‘Hal itu adalah benar. Aku telah menemukan bahwa ia adalah seorang pelindung yang setia dan mulia, tetapi aku tidak ingin memiliki pelindung selain Allah. Oleh sebab itu aku melepaskan dia dari tanggung jawabnya.’”

Suatu hari Labid ibn Rabi‘a ibn Malik ibn Ja‘far ibn Kilab membaca beberapa ayat dengan ditemani beberapa orang dari suku Quraishy. Ketika ia berkata: “Semuanya sia-sia kecuali Allah,” Uthman, yang juga hadir, menambahkan: ‘Engkau telah berkata dengan benar!’ Labid meneruskan: ‘Semua yang menyenangkan akan berakhir suatu hari!’ Uth-man membalas: ‘Engkau berbohong. Kesenangan firdaus tid-ak akan pernah berakhir!’ Labid lalu berkata: ‘Oh engkau dari suku Quraishy! Demi Allah, tidak ada seorangpun dari kelompokmu pernah disinggung sampai saat ini. Sejak kapan hal seperti ini telah terjadi?’ Salah seorang dari mereka yang hadir menjawab: ‘Jangan diambil hati apa yang dikatakan oleh pria ini. Dia adalah salah seorang bodoh yang telah meninggalkan iman kami.’ Untuk bagian Uthman dia juga tidak ingin tinggal diam, sampai terjadi sebuah perdebatan dan pria tersebut meninju matanya, sehingga menjadi lebam. Ketika Walid yang berada di dekatnya, melihat hal ini, dia berucap: ‘Demi Allah, sepupuku, matanya seharusnya bisa diselamatkan. Sampai saat ini engkau hidup di bawah perlindunganku.’ Uthman menjawab: ‘Tidak, demi Allah, mataku yang sebelah menginginkan hal yang sama yang terjadi pada mata yang ini sebagai sebuah pelayanan untuk Allah. Aku berada dalam perlindungan dari dia yang lebih kuat dan kuasa disbanding engkau, ayah dari Abd Shams.’ Walid berkata: ‘Baiklah, sepupuku, sekarang jika engkau mau aku akan kembali menaruh engkau di bawah perlindunganku.’ Namun, Uthman tidak ingin mengetahui tentang hal itu lebih lanjut.

3.02.13 -- Tentang Abu Satama dan perlindungannya

Abu Ishaq ibn Yasar memberitahuku tentang Salama ibn Umar ibn Abi Salama: “Ketika Abu Salama berlindung kepada Abu Talib, beberapa orang dari Bani Makhzum pergi kepada Abu Talib dan berkata: ‘Engkau telah datang kepada perlindungan keponakanmu untuk melawan kami. Mengapa engkau perlu untuk melindungi satu orang lagi dari antara kami?’ Abu Talib menjawab: ‘Dia telah berlindung dibawah perlindunganku dan ia adalah putra dari saudariku. Jika aku tidak melindungi putra dari saudariku maka aku tidak dapat melindungi putra dari saudaraku pula.’ Abu lahab kemudian beridi dan berkata: ‘Demi Allah, engkau telah banyak membantu orang tua ini. Engkau secara terus menerus menyerangnya karena ia memberikan perlindungan kepada mereka yang berasal dari sukunya. Pilihlah antara meninggalkan dia dalam damai atau biarkan kami semua berpegang kepadanya sampai ia mencapai tujuannya.’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak ingin hal yang tidak menyenangkan engkau, Ayah dari ‘Utba.’ Pria yang sama ini adalah kawan dan pendukung mereka melawan Muhammad, dan hal tersebut tetap seperti itu.”

3.02.14 -- Mengenai Abu Bakr

Sebagaimana Muhammad ibn Muslim telah memberitahukan kepadaku, yang mendengarnya dari Aisha, Abu Bakr, orang-orang jujur, meminta ijin dari Muhammad untuk bermigrasi, pada saat ketika ia mengalami banyak hinaan di Mekah dan ketika suku Quraishy bersekutu melawan Muhammad dan para sahabatnya. Muhammad mengijinkannya dan ia berangkat. Namun ketika ia telah bepergian selama perjalanan satu atau dua hari dia bertemu Ibn al-Dughunna, seorang saudar dari Bani al-Harith ibn Abd Manat ibn Kinana, yang saat itu adalah penguasa Ahabish. Pria ini bertanya kepada Abu Bakr kemana ia ingin pergi. Dia menjawab: “Rakyatku telah mengusirku dengan menghina dan menekanku.” – “Dan mengapa begitu?” bertanya Ibn al-Dughunna, “bukankah engkau adalah ornament suku tersebut, seorang penolong dalam kasus-kasus kemalangan? Engkau penuh kebajikan dan bawalah kembali hal yang terhilang itu. Berbaliklah, karena aku akan melindungi engkau!” Abu Bakr kembali bersamanya ke Mekah dan Ibn al-Dughunna menjelaskan kepada suku Quraishy bahwa ia akan melindungi Abu Bakr dan tidak ada seorangpun yang boleh membahayakan dia. Sejak saat itu mereka membiarkan dia.

Aisha lebih lanjut mengatakan bahwa Abu Bakr memiliki sebuah tempat untuk berdoa di depan sebuah pintu di dalam kediamannya, di antara Bani Diumah. Dia adalah seorang pria yang emosional yang dapat membuat orang lain menangis dengan pembacaan Qurannya. Orang-orang muda, budak-budak dan wanita-wanita tetap berdiri dan mengagumi dia. Karena alasan itu beberapa orang dari suku Quraishy pergi kepada Ibn al-Dughunna dan mengeluh: “Apakah engkau telah memberikan pria ini perlindungan sehingga ia dapat membahayakan kami? Ketika ia berdoa dan membaca Quran, ia sangat terharu. Terlebih lagi, ia adalah seorang pria dengan penampilan yang istimewa, sehingga kami takut ia akan memimpin wanita-wanita, anak-anak dan rakyat kami yang lemah menjadi tersesat. Pergilah kepadanya dan perintahkan dia untuk mundur ke dalam rumahnya. Di sana ia bisa melakukan apapun yang ia mau.”

Jadi Ibn al-Dughunna mendatangi Abu Bakr dan berkata: “Aku tidak menawarkan perlindunganku supaya engkau dapat menjengkelkan rakyatmu. Mereka merasa dianiaya, karena engkau berdoa di luar rumahmu. Oleh sebab itu masuklah kembali ke dalam rumahmu sendiri dan lakukan apa yang ingin kau lakukan!” Abu Bakar menjawab: “Atau aku akan melepaskan perlindunganmu dan memuaskan diriku dengan perlindungan Allah.” – “Nah sekarang,” membalas Ibn al-Dughunna, “sekarang konfirmasikan hal ini kepadaku.” Yang mana lalu Abu Bakr berkata: “Aku melepaskanmu dari tugasmu untuk menyediakan perlindungan.” Ibn al-Dughunna kemudian memperlihatkan hal ini kepada suku Quraishy dan menyerahkan hal itu kepada mereka apa yang mereka ingin lakukan terhadap Abu Bakr.

3.02.15 -- Bagaimana pelarangan Bani Hashim dan Muttalib dihapuskan (sekitar 619 M)

Bani Hashim dan Muttalib telah menarik diri ke dalam ngarai, setelah suku Quraishy melarang mereka. Beberapa dari suku Quraishy pergi bersama mereka, namun untuk melihat lagi larangan tersebut dicabut. Yang paling bersemangat adalah Hisham ibn Amr ibn Rabi‘a, yang adalah sepupu dari Nadhla Ibn Hashim dari pihak ibunya. Untuk alasan itu dia merasa lebih dekat kepada Bani Hashim. Dia juga memiliki reputasi yang cukup baik di antara rakyatnya. Sebagaimana aku dengar, suatu malam ia pergi ke pintu masuk ngarai yang di-huni oleh Bani Hashim dan Muttalib. Dia membawa seekor unta yang dimuati dengan makanan yang kemudian kekangnya dilepas, dan dengan sebuah hentakan, membawanya ke dalam ngarai. Di kesempatan lain ia memuati unta tersebut dengan pakaian dan ia melakukan hal yang sama.

Hisham mendatangi Zuhair ibn Abi Umaiyya, yang ibunya, Atika, adalah putri dari Abd al-Muttalib, dan berkata: “Apakah engkau senang bahwa engkau dapat makan, memakai pakaian dan mengikat kontrak pernikahansebagaimana engkau inginkan, sementara paman-paman dari pihak ibumu, se-bagaimana engkau tahu betul, tidak dapat membeli, menjual atau mengikat kontrak pernikahan? Demi Allah, jika mereka adalah paman-paman dari Abi al-Hakam ibn Hisham dan engkau menginginkan dari dirinya apa yang engkau harap-kan, dia tidak akan pernah mengalah padamu. Zuhari mem-balas: “Celakalah kamu, Hisham! Apa yang dapat aku lakukan sendirian? Jika aku dapat menemukan orang lain aku akan mencoba dan mencabut larangan ini.” Hisham membalas: “Di dalam diriku engkau menemukan pria kedua!” Zuhair kemudian berkata: “Carilah lagi yang ketiga!” Hisham mendatangi Mut‘im ibn Adi dan berkata: “Apakah benar bagi dirimu bahwa dua suku dari putra-putra Abd Manaf binasa di depan matamu sendiri? Dalam hal ini apakah engkau memiliki pikiran yang sama seperti suku Quraishy? Demi Allah, jika engkau menga-bulkan kepada mereka hal ini engkau akan segera melihat apa yang mereka mampu lakukan terhadap engkau.” Mut’im membalas: “Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya satu orang saja.” Hisham menjawab hal itu: “Aku telah mendapatkan orang kedua.” – “Siapa?” – “Aku sendiri.” – “Jadi sekarang carilah yang ketiga!” – “Hal itu sudah terjadi!” – “Siapakah dia” – “Zuhari ibn Abi Umaiyya.” – “Jadi sekarng carilah yang keempat!” Hisham mendatangi Abu al-Bakhtari dan berkata kepadanya hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Mut’im. Yang itu lalu bertanya: “Apakah akan ada orang yang mendukung aku untuk hal ini?” Hisham menceritakan kepadanya tentang Hisham dan dirinya sendiri. Pria itu lalu menjawab: “Carilah juga untuk yang kelima!” Hisham lalu mendatangi Zama ibn al-Aswad dan berbicara kepadanya tentang saudara sedarah dan hak-hak dari mereka yang berada di bawah pelarangan. Zama bertanya: “Siapa yang dalam persetujuan dengan dia yang engkau telah sarankan kepadaku?” Hisham memberitahunya tentang yang lain dan mereka mengatur untuk bertemu bersama di malam hari bagian yang menonjol dari Hajun, salah satu tempat yang tinggi selain Mekah. Di sana mereka menetapkan diri mereka di bawah kewajiban yang saling menguntungkan untuk mengumpulkan segalanya untuk mencabut larangan. Zuhari mengajukan diri secara sukarela untuk membuat permohonan itu.

Keesokan paginya sebagaimana suku Quraishy bertemu, seperti biasanya, di sana hadir Zuhair pakaian yang mewah dan mengelilingi Ka’bah tujuh kali. Dia kemudian berpaling kepada mereka yang berkumpul bersama: “Kalian penghuni Mekah, apakah benar bagi kita untuk mendapatkan gizi dan pakaian yang baik, sementara Bani Hashim binasa dan kita menghindari semua kontak dengan mereka? Demi Allah, aku tidak akan beristirahat sampai kesepakatan yang tidak adil ini – yang memisahkan suku kita – disobek-sobek.”

Abu Jahl, yang sedang duduk di satu sisi tempat suci, menjawab: “Engkau berbohong. Larangan itu tidak akan dicabut.” Zama ibn al-Aswad kemudia berkata: “Demi Allah, engkau adalah seorang pembohong besar. Kita tidak bersepakat ketika kesepakatan ini disusun.” Abu al-Bakhtari membalas: “Zama benar, kita tidak dalam kesepakatan tentang hal ini dan tidak mendukung larangan.” Terhadap hal itu al-Mut’im menambahkan: “Engkau berdua telah mengatakan kebenaran. Siapapun yang mengatakan hal yang berbeda telah berbohong. Di hadapan Allah kami memcabut larangan ini dan dari semuanya yang ada dalam dokumen itu.”

Ketika Hisham mendukung hal ini, Abu Jahl berteriak: “Urusan itu dilakukan di malam hari, ketika konsultasi terjadi di tempat lain.” Dengan itu al-Mut’im berdiri dan menyobek kertas tersebut, tetapi ulat telah menggerogotinya hinga menjadi potongan-potongan. Kata-kata yang masih bisa dibaca adalah “di dalam nama-Mu, Allah”. Penulis dari dokumen tersebut adalah Mansur ibn ‘Ikrima, yang tangannya, sebagaimana dituliskan, kemudian menjadi layu.

3.02.16 -- Bagaimana Muhammad memualafkan Rukana

Abu Ishaq ibn Yasar memberitahukanku: “Rukana ibn Abd Jazid, pria paling kuat di antara suku Quraishy, pada suatu hari sendirian bersama Muhammad di dalam ngarai di Mekah. Muhammad berbicara: ‘Rukana, tidakkah engkau takut akan Allah, dan mengikut panggilanku?’ Dia menjawab: ‘Jika aku tahu bahwa engkau berbicara kebenaran aku akan mengikut engkau.’ Muhammad membalas: ‘Jika aku melempar engkau ke tanah akankah engkau percaya bahwa aku berbicara kebenaran?’ – ‘Ya’ – ‘Jadi bangkitlah dan mari kita bergulat bersama!’ Rukana berdiri untuk bergulat dengan Muhammad. Muhammad memukulnya dengan sebuah pukulan sehingga ia jatuh tak berdaya ke tanah. Rukana ingin bertarung kembali tetapi sekali lagi Muhammad melemparnya ke tanah. Rukana kemudia berkata: ‘Demi Allah, itu adalah hal yang mengagumkan. Bagaimana engkau dapat memukul aku jatuh ke tanah?’ Muhammad membalas: ‘Jika engkau takut akan Allah dan menerima imanku aku akan menunjukkan kepadamu keajaiban yang lebih besar.’ – ‘Yaitu?’ – ‘Aku akan memanggil pohon yang engkau lihat di sana dan pohon itu akan mendatangiku.’ Karena desakan Rukana Muhammad memanggil pohon itu dan ia datang dan berdiri teguh di hadapannya, sampai ia memerintahkannya kembali ke tempatnya semula, yang kemudian dilakukan pohon itu. Rukana kembali kepada rakyatnya dan berkata: ‘O engkau putra-putra Abd Manaf, dengan kawanmu engkau dapat memikat semua penghuni bumi, karena, demi Allah, aku belum pernah melihat seorang tukang sihir yang lebih hebat.’ Dia lalu memberitahu mereka apa yang Muhammad telah lakukan dan apa yang ia telah lihat.”*

* Jika cerita ini benar, lalu hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Muhammad bukan seorang tukang sihir hebat, dengan kekuatan satanik yang siap dipakai.

3.02.17 -- Ketibaan seorang utusan Kristen dari Ethiopia

Ketika Muhammad masih berada di Mekah, sekitar dua puluh orang Kristen mendatanginya, setelah mereka mendengar laporan-laporan tentangnya di Ethiopia. Mereka menemukannya di tempat sholat, duduk di sampingnya, berbicara kepadanya dan menanyainya pertanyaan-pertanyaan – sementara pria-pria dari suku Quraishy berdiri di tempat pertemuan mereka di Ka’bah. Setelah mereka telah menanyai rasul Allah semua yang mereka hendak ketahui tentang dia, dia memanggil mereka untuk tunduk kepada Allah dan membaca beberapa ayat dari Quran di hadapan mereka. Ketika mereka mendengar Quran mata-mata mereka menjadi basah oleh air mata. Mereka dengan segera menerima Allah, percaya kepadanya, mempercayai realitasnya dan mengalami apa yang tertulis tentangnya di dalam buku mereka. Mereka baru hendak meninggalkan Muhammad ketika Abu Jahl ibn Hisham, bersama dengan beberapa pria dari suku Quraishy, mendatangi mereka untuk menghalangi jalan mereka dan berkata: “Kiranya Allah menghalangi iring-iringanmu! Orang-orang dari agamamu, di mana engkau berasal, telah mengirim engkau dengan maksud supaya engkau membawakan mereka berita tentang pria ini (Muhammad). Namun, engkau mendudukkan diri dengannya dan dengan segera meninggalkan agamamu, tanpa bahkan mengenal dirinya. Kami belum pernah melihat utusan yang lebih bodoh dari ini!”

Yang lain mengatakan: “Utusan tersebut datang dari Wadi Najran (di utara Yaman). Hanya Allah yang tahu siapa dia sebenarnya!” Mengenai utusan tersebut ayat-ayat berikut diturunkan: “52 Orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur'an, mereka beriman (pula) kepadanya (Al-Qur'an). 53 Dan apabila (Al-Qur'an) dibacakan kepada mereka, mereka berkata, “Kami beriman kepadanya, sesungguhnya (Al-Qur'an) itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami. Sungguh, sebelumnya kami adalah orang muslim.’” (Surah al-Qasas 28:52-53).

* Aktifitas misionaris dari pencari suaka Islami di Ethiopia mendapatkan akibat sesudahnya. Beberapa orang Kristen ingin mengusut Islam dan mengunjungi Muhammad untuk berkenalan dengannya. Akan selalu ada orang-orang Kristen yang secara alamiah baik dan dangkal yang mengerti agama secara setengah-setengah dan bentuk-bentuk kesalehan yang yang mengesankan sebagai sebuah fondasi dari iman yang sejati. Namun Injil mengajarkan kita bahwa bahkan keagamaan yang paling dalam sekalipun tidak dapat menyelamatkan seseorang. Darah dari Anak Allah yang disalibkan menghasilkan kebenaran yang diperhitungkan di hadapan Allah (bandingkan Roma 1:17). Semua agama yang lain tidak membuka jalan kepada Allah. Mereka tetap terjebak dengan penebusan oleh diri sendiri dan legalitas.

3.02.18 -- “Mungkinkah Allah mengampuni orang-orang semacam ini?”

Suatu kali Muhammad sedang duduk di samping Ka’bah, dikelilingi oleh beberapa orang dari para sahabatnya yang paling tidak terhormat – di antaranya – Khabbab, Ammar, Abu Fukaiha Yasar, seorang yang dibebaskan dari milik Safwan ibn Umaiyya ibn Muharrith dan Suhaib. Suku Quraishy mulai bebicara dengan sinis di antara mereka sendiri: “Mereka adalah para sahabatnya, seperti yang engkau lihat. Mungkinkah Allah telah mengampuni pria-pria semacam ini di antara kita melalui petunjuk dan pengetahuan akan kebenaran? Jika di dalam kebenaran ada sesuatu yang baik dalam pewahyuan Muhammad, pria-pria ini tidak mungkin akan telah mendahului kita. Allah tidak mungkin telah memberikan mereka keistimewaan sebelum kita.”

Jadi Allah mewahyukan: “Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridhaan-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zhalim.” (Surah al-An‘am 6:52).

3.02.19 -- Muhammad dan Jabr – sang Kristen

Sebagaimana dilaporkan kepadaku, Muhammad sering duduk di Marwa (di sekitar Mekah), di depan pondok dari seorang Kristen muda bernama Jabr,* yang adalah seorang budak dari Bani al-Hadrami. Oleh sebab itu dikatakan bahwa Jabr mengajarkan Muhammad banyak hal yang dikemudian hari diwahyukan. Lalu muncullah ayat Quran: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur'an itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah bahasa ‘Ajam, padahal ini (Al-Qur'an) adalah dalam bahasa Arab yang jelas.” (Surah al-Nahl 16:103).

* Budak bernama Jabr adalah salah satu dari orang-orang Kristen yang diketahui namanya yang bersamanya Muhammad duduk berjam-jam di da-lam sebuah toko dengan berbagai macam barang dagangan, dengan tujuan untuk menyanyai dan mendapatkan pengajaran darinya tentang Injil. Orang-orang Mekah, yang tidak ramah terhadap Muhammad, mengejek dan memanggil Jabr “Roh Kudus” dari Muhammad, yang menginspirasinya, dan yang darinya Muhammad menerima sebagian dari wahyunya.

3.02.20 -- Bagaimana Surah al-Kautsar diwahyukan

Sebagaimana dilaporkan kepadaku, al-‘As ibn Wa’il, dari suku Samit, mengatakan hal berikut ini pada saat pembicaraan Muhammad terjadi: “Tinggalkanlah ia! Dia tidak memiliki keturunan! Dalam waktu beberapa tahun semua ingatan akan dia akan hilang dan engkau akan mendapatkan ketenangan.” Setelah itu Allah mewahyukan: “Sungguh, Kami telah mem-berimu (Muhammad) nikmat yang banyak.”* (Surah al-Kautsar 108:1), yang lebih baik dari bumi ini dan semua yang ada di dalamnya.

* Al-Kautsar berarti “hebat, agung, berlimpah”. Al-Kautsar juga merupakan nama dari sebuah sungai di firdaus yang dikatakan memiliki banyak anak sungai. Airnya manis seperti madu dan palungnya bertatahkan batu-batu berharga.

3.03 -- Penglihatan Muhammad akan kenaikannya ke Surga (sekitar 619 M)

3.03.1 -- Perjalanan malam hari Muhammad dan penglihatan selama kenaikan ke surga

Islam telah mulai disebarkan di antara suku Quraishy dan suku-suku lain di Mekah ketika Muhammad diangkut dari tempat penyembahan di Mekah ke kuil di Yerusalem. Mengenai perjalanan ini ada tradisi-tradisi dari Abd Allah ibn Mas’ud, dari Abu Sa‘id al-Khudri, dari Aisha, istri Muhammad, dari Mu‘awiya ibn Abi Sufyan, dari Hassan ibn Abi al-Hassan al-Basri, dari Ibn Schihab al-Zuhri, dari Qatada, dari pembawa tradisi lainnya dan dari Umm Hani, putri Abu Talib. Kami telah menyimpulkan disini apa yang dilaporkan oleh pria dan wanita yang berbeda tentang hal ini.

Perjalanan ini mewakili sebuah godaan dan cobaan bagi Mus-lim terhadap perintah Allah, yang ditinggikan dan yang Berkuasa. Ini menandakan sebuah instruksi bagi mereka yang mengerti, sebuah petunjuk, anugerah dan konfirmasi bagi yang percaya. Perintah Allah diberikan. Muhammad perlu naik sehingga Allah dapat “menunjukkan kepadanya keajaiban-keajaibannya” (Surah al-Isra’ 17:1) seperti yang diinginkannya, sehingga Muhammad dapat mendapatkan lirikan atas kuasa dan dominasinya, yang dengannya ia dapat melakukan apapun yang ia inginkan.

Abd Allah ibn Mas‘ud menjelaskan: “Muhammad dibawa kepada Buraq*, hewan luar biasa yang telah mengangkut nabi-nabi sebelumnya, yang setiap langkah terjangannya membawanya sejauh mata dapat melihat. Temannya (Jibril) menolongnya mengikat dan menemaninya. Muhammad melihat keajaiban di antara surga dan bumi. Dia akhirnya tiba di Yerusalem. Di sini ia berjumpa dengan Ibrahim, Musa, Kristus dan nabi-nabi yang lain, yang berkumpul demi diri Muhammad, dan ia berdoa bersama mereka.”**

* Buraq berarti: secepat kilat, yang berkilau dan di dalam Islam menandakan seekor hewan putih yang dikendarai dan diikat oleh para nabi (Surah al-Isra’ 17:1). Dikatakan bahwa hewan itu lebih besar dari seekor keledai dan lebih kecil dari seekor bagal dan memiliki dua sayap. Ketika Muhammad mengikat hewan menakjubkan ini untuk kenaikannya dia ditemani oleh Jibril dan Mikail (Ali Mansuru‘s - Nasif: Sharhu Kitabi-t-Taj).
** Di dalam Islam, Ibrahim, Musa dan Kristus adalah nabi-nabi paling penting yang berasal dari masa sebelum Muhammad. Dalam hal itu Yesus disebutkan bersama dengan Ibrahim, Musa dan Muhammad, ia diturunkan tingkatannya menjadi serupa nabi-nabi lainnya.
Dalam fakta yang aktual, Musa dan Elia muncul di hadapan Tuhan Yesus di atas gunung transfigurasi. Kedua perwakilan dari Perjanjian Lama menguatkan Yesus dalam jalan menuju salib, bahwa ia mampu menyelesaikan penyelamatan dunia (Matius 17:3-4; Markus 9:4-5; Lukas 9:30-31).
Muhammad tidak pernah bertransfigurasi. Bahwa selama penglihatannya atau mimpi malamnya, dia tetap sebagai seorang manusia biasa.

Muhammad dibawakan tiga buah wadah. Yang satu berisi susu, yang lainnya anggur dan yang ketiga air. Sebagaimana wadah-wadah itu ditaruh di hadapannya, Muhammad mendengar sebuah suara yang memanggilnya: “Jika engkau mengambil wadah berisi air bersamamu dan rakyatmu akan tenggelam. Jika engkau menjangkau anggur, maka engkau dan rakyatmu akan tersesat. Namun, jika engkau lebih memilih susu engkau dan rakyatmu akan dibimbing dengan benar.”

“Oleh sebab itu aku mengambil,” Muhammad berkata, “wadah berisi susu dan meminum darinya, dan Jibril berkata kepadaku, ‘Engkau akan dibimbing dengan benar dan rakyat yang bersamamu, o Muhammad!’”

Al-Hassan memberitahuku bahwa Muhammad pernah sekali berkata: “Ketika aku sedang tidur di tempat suci, Jibril mendatangiku dan menyenggol aku dengan kakinya. Aku duduk tegak tetapi tidak melihat apapun. Oleh sebab itu aku merebahkan diri di atas ranjangku lagi. Sekali lagi Jibril menyenggol aku dengan kakinya. Aku bangun, tetapi ketika aku tidak melihat apapun aku merebahkan diri kembali. Dia menyenggol aku kembali untuk ketiga kalinya dan ketika aku bangun ia menggenggam tanganku. Aku berdiri dan ia memimpin aku menuju ke pintu dari tempat penyembahan. Di sana berdiri seekor hewan putih yang berukuran antara seekor keledai dan seekor bagal. Ia memiliki dua buah sayap di pahanya, di bawah di mana kaki belakangnya berada, sementara kaki depannya mencapai sejauh mata dapat melihat. Jibril mendorong aku naik dan menemani aku. Dia tetap berada di sisiku terus menerus.”

Aku mendengar dari Qatada bahwa Muhammad berkata: “Pada saat aku menghampiri hewan itu untuk menaikinya, ia menjadi bandel. Jibril lalu menaruh tangannya pada surainya dan berkata: ‘Apakah engkau tidak malu pada dirimu sendiri, Buraq? Demi Allah, tidak ada budak Allah yang mulia yang pernah menaiki selain Muhammad.’ Buraq begitu malunya sehingga ia berkeringat secara luar biasa. Dia lalu tetap berdiri dengan diam sampai aku telah menaikinya.”

Al-Hassan melaporkan: “Muhammad bepergian ke Yerusalem, dengan ditemani oleh Jibril. Di sana ia bertemu dengan Ibrahim, Musa dan Kristus dan nabi-nabi lainnya. Muhammad pergi kepada mereka dan berdoa bersama mereka. Dia lalu dibawakan dua wadah, yang di dalam salah satunya berisi anggur dan lainnya susu. Muhammad mengambil wadah berisi susu dan meminumnya. Anggurnya ia tinggalkan tanpa disentuh. Kemudia Jibril berkata kepadanya: “Engkau telah dibimbing dengan benar sejak penciptaanmu, rakyatmu dibimbing dengan benar, dan anggur terlarang untukmu.”

Muhammad kemudian kembali ke Mekah dan memberitahu suku Quraishy pengalamannya keesokan harinya. Kebanyakan dari mereka berkata: “Demi Allah, hal itu adalah sebuah kepastian! Muhammad ingin mengadakan perjalanan datang dan pergi ke Suriah dalam satu malam, sementara dengan sebuah kafilah membutuhkan waktu dua bulan untuk melakukannya.”

Banyak Muslim yang kembali meninggalkan Islam. Yang lainnya mendatangi Abu Bakr dan bertanya: “Apa pemikiranmu tentang temanmu yang mengatakan bahwa ia menghabiskan waktu semalam di Yerusalem? Dia seharusnya berdoa di sana dan kembali lagi.” Abu Bakr menjawab: ‘Engkau mengarang kebohongan tentang dia.’ Mereka kemudian menjawab: ‘Dia berada di sekitar Ka’bah dan ia sendiri berbicara tentang hal itu.’ Abu Bakr menjawab: ‘Demi Allah, ketika ia sendiri mengatakannya, berarti hal itu adalah benar, dan apa yang begitu luar biasa tentang hal itu? Aku mempercayainya ketika ia memberitahuku bahwa wahyu datang dari surga ke bumi dalam waktu satu jam di pagi atau malam hari. Dan ini berarti lebih banyak ketimbang apa yang kelihatannya hebat bagimu.’”

Dia kemudian mendatangi Muhammad dan bertanya: “Pernahkah engkau, oh nabi Allah, memberitahukan orang-orang ini bahwa engkau berada di Yerusalem?” Dia menjawab: “Ya.” Abu Bakr kemudian berkata: “Jelaskanlah tentang kota itu kepadaku. Aku pernah berada di sana sebelumnya.” Muhammad lalu mulai menjelaskan Yerusalem, dan pada seringkali saat dia menjelaskan secara detil satu bagian tertentu dari kota itu Abu Bakr akan berteriak: “Engkau telah berkata dengan jujur! Aku bersaksi bahwa engkau adalah nabi Allah.” Ketika ia telah selesai bicara dia berkata kepada Abu Bakr: “Engkau, Abu Bakar, adalah orang yang penuh kebenaran.” Dari hari ini dia dikenal sebagai “dia yang penuh kebenaran”.

Hassan melanjutkan laporannya: “Terhadap mereka yang meninggalkan Islam karena kejadian ini, Allah mewahyukan: ‘…Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon yang terkutuk (zaqqum) dalam Al-Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.’” (Surah al-Isra’ 17:60).

Seseorang dari keluarga Abu Bakr memberitahuku, Ai’sha pernah berkata: Tubuh Muhammad tidak absen, tetapi Allah mengijinkan rohnya yang bepergian.” Ya’qub ibn ‘Utba ibn al-Mughira ibn al-Akhnas melaporkan kepadaku, Mu‘awiya ibn Abi Sufyan pernah menjawab, ketika ia ditanya mengenai perjalanan malam Muhammad: “Itu adalah penglihatan yang benar dari Allah.”

Setelah dia Al-Zuhri melaporkan apa yang ia telah dengar dari Sa‘id ibn al-Musayyab: “Muhammad menjelaskan Ibrahim, Musa dan Kristus kepada para sahabatnya, setelah ia telah melihat mereka mala mini. Tentang Ibrahim ia berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu mirip dengan aku atau aku mirip dengan dia. Musa adalah seorang pria yang berperawakan hebat, gesit, rambut keriting dan hidung yang bengkok, seolah dia berasal dari suku Shanu’a. Kristus kelihatan putih kemerahan, dengan perawakan sedang, dengan rambut yang panjang, wajah yang bersinar, seolah dia baru saja selesai mandi. Seseorang bisa mendapatkan kesan bahwa air menetes dari kepalanya, meskipun tidak demikian keadaannya.’”*

* Muhammad kelihatannya pernah mendengar sesuatu tentang pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan.
Yesus mungkin memiliki kulit berwarna coklat muda. Jika ia kelihatan berbeda dari orang Yahudi lainnya, dia akan dipanggil anak haram dan ditolak.

3.03.2 -- Sebuah Penjelasan tentang Muhammad

Umar, seorang yang dimerdekakan dari Ghufra, melaporkan dari Ibrahim ibn Muhammad ibn Ali ibn Abu Talib bahwa Ali memberikan penjelasan berikut tentang Muhammad: “Dia tidak terlalu tinggi ataupun terlalu pendek, dengan perawakan pertengahan. Rambutnya tidak terlalu ikal, tidak terlalu bergelombang. Wajahnya tidak terlalu penuh dan tidak terlalu gemuk. Warnanya putih bercampur dengan kemerahan. Matanya hitam dan bulu matanya lentik. Dia memiliki kepala yang keras dan bahu yang mantab, sedikit bulu-bulu halus di dadanya, tangan dan kaki yang besar. Ketika ia berjalan, langkahnya ringan, seolah ia bergerak pada tanah yang terjal; ketika ia berbalik ia melakukan secara keseluruhan. Dia bergerak begitu ringan, seolah dia melayang di atas air, dan ketika ia melihat ke satu sisi, dia memutar dirinya sepenuhnya. Di antara pundaknya terdapat meterai kenabian.* Tangannya adalah yang paling dermawan dibandingkan pria manapun. Dadanya adalah yang paling berani. Lidahnya adalah yang paling jujur.** Dia adalah yang paling setia terhadap mereka yang berada dalam penjagaannya, paling rendah hati dan menyenangkan dalam persetujuannya. Siapapun yang melihatnya tiba-tiba dipenuhi dengan ketakjuban. Siapapun yang mendekatinya lebih dekat mengasihi dia. Siapapun yang menjelaskan tentang dia akan berkata: “Aku belum pernah melihat sebelum dan sesudahnya yang seperti dia.’”

* Meterai kenabian memiliki beberapa penafsiran tentang bentuk dan warnanya. Sesekali sebuah tanda lahir dianggap sebuah meterai.
** Muhammad secara legal mengijinkan pria untuk berbohong: a) dalam perang, b) untuk mendamaikan dua musuh, atau c) bagi pria untuk membohongi istri-istri mereka dan istri-istri kepada suami-suami mereka. (At-Tirmidhi, Kitab al-Birr, 26; Musnad Ahmad ibn Hanbal 3:457).

3.03.3 -- Kenaikan ke surga dan keajabian yang Muhammad lihat di sana

Seorang pria yang dapat diandalkan mengatakan kepadaku dia mendengar bahwa Abu Sa‘id al-Khudri pernah mendengar kata-kata berikut dari Muhammad: “Ketika aku sudah selesai mengerjakan segala hal yang diperlukan di Yerusalem, aku dibawakan sebuah tangga. Aku tidak pernah melihat sesuatu yang begitu indahnya. Tangga itu adalah sesuatu yang mana orang yang meninggal akan menatapnya pada saat kebangkitan. Kawanku (Jibril) mengijinkan aku menaikinya, sampai kita mencapai salah satu pintu surga, yang disebut dengan Gerbang Penjaga. Di sana berdiri seorang malaikat yang bernama Isma’il. Dia memiliki komando atas 12.000 malaikat, dan juga setiap mereka memiliki 12.000 anak buah malaikat.”

Muhammad berkata: “Ketika aku datang ke surga terendah, semua malaikat menjumpaiku dengan tertawa, wajah yang riang dan menyampaikan semoga beruntung kepadaku. Hanya satu malaikat yang menyampaikan semoga beruntung yang tidak tertawa atau kelihatan senang. Karena itu aku bertanya kepada Jibril mengapa hanya malaikat ini yang tidak menunjukkan tertawaan, wajah yang riang sebagaimana ditunjukkan yang lain.” Jibril menjawab: ‘Dia tentu akan menunjukkan tertawaan kepadamu jika ia pernah melakukannya kepada orang lain sebelumnya dan akan melakukannya lagi. Tetapi malaikat yang ini tidak pernah tertawa. Dia adalah Malik – Tuan dari Neraka.’ Aku lalu berkata kepada Jibril, siap yang pada titik ini memberikan perintah menurut kehendak Allah, yang juga dapat dipercaya: ‘Akankah engkau memerintahkan dia untuk menunjukkan kepadaku api dari neraka?’ Dia setuju dan memberikan perintah tersebut kepada Malik. Malaikat ini lalu mengangkat tutup dan menaruhnya di samping, dan apinya menggelora dan naik tinggi, sedemikian sehingga aku berpikir api itu akan menghancurkan semua yang aku lihat. Oleh sebab itu aku meminta Jibril untuk memerintahkan dia untuk memaksanya kembali lagi. Jibril melakukannya dan Malik berteriak: ‘Kembali!’ Api tersebut lalu kembali ke tem-patnya berasal, dan terlihat kepadaku seolah sebuah bayan-gan telah menutupi segala sesuatu. Malik kemudian mendorong tutupnya kembali ke tempat.”

Menurut laporan Abu Sa‘id, Muhammad berkata: “Ketika aku tiba di surga terendah, aku melihat seorang pria yang sedang duduk yang kepadanya jiwa-jiwa manusia disampaikan. Ia gembira dengan salah satunya dan berkata: ‘Jiwa yang baik – datang dari tubuh yang baik.’ Kepada yang lainnya ia menunjukkan muka yang gelap dan menangis: ‘Iblis, jiwa yang buruk – keluar dari tubuh yang buruk.’ Aku bertanya kepada Jibril: ‘Siapakah pria ini?’ Dia menjawab: ‘Ini adalah bapakmu Adam.* kepada siapa jiwa-jiwa dari keturunannya sedang disampaikan. Dia senang dengan orang-orang percaya dan berkata: ‘Jiwa yang baik dari tubuh yang baik.’ Dengan orang yang tidak percaya dia tertekan dan dipenuhi dengan kejijikan, dan berkata: ‘Jiwa yang buruk dari tubuh yang buruk.’”

* Menurut pengertian Islam, Adam termasuk golongan orang percaya dan sudah seorang Muslim. Gambaran Muslim ini bergantung pada sebuah tradisi dari Muhammad yang menjadikan kebingungan pada pemikiran-pemikiran dari generasi kemudian. Oleh sebab itu ada tradisi-tradisi yang tidak terhitung jumlahnya yang berbicara tentang penghormatan Adam kepada Muhammad. (lihat al-Mawahib al-Ladunniyya).

“Aku kemudian melihat pria-pria dengan bibir unta, yang memegang api dalam tangan-tangan mereka, begitu besar sehingga mengisi seluruh tangan. Mereka melemparkan api ini ke dalam mulut-mulut mereka dan keluar lagi dari belakang. Aku bertanya kepada Jibril: ‘Pria apakah mereka ini?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah pria yang secara tidak benar melahap barang-barang milik para yatim.’”

“Aku kemudian melihat pria-pria dengan perut-perut, yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Mereka merayap pada perut-perut mereka seperti unta-unta kehausan, yang kemudian diinjak-injak keseluruhannya sehingga mereka tidak apat bergerak pergi dari mereka. Aku bertanya pada Jibril: ‘Siapakah mereka ini?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah lintah darat.’”

“Aku kemudian melihat pria-pria yang memiliki daging yang bagus dan gemuk di hadapan mereka dan di sampingnya daging yang buruk dan berbau; namun mereka makan dari yang rusak dan meninggalkan yang baik di sana. Aku bertanya kepada Jibril pria macam apa mereka itu. Dia menjawab: ‘Mereka adalah pria-pria yang meninggalkan wanita-wanita yang Allah telah ijinkan untuk mereka miliki dan berpaling kepada wanita-wanita yang Allah nyatakan terlarang bagi mereka.’”

“Aku kemudian melihat wanita-wanita yang bergantungan pada dada-dada mereka. Aku bertanya kepada Jibril: ‘Siapakah mereka ini?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah yang telah menipu suami mereka dengan anak-anak haram. Murka Allah adalah dashyat terhadap seorang wanita yang mengambil seseorang dari sebuah generasi yang bukan miliknya, yang kemudian melahap barang-barangnya dan menyingkap keaiban.’”

Menurut Abu Sa‘id al-Khudri, Muhammad melanjutkan: “Jibril kemudian menginjinkan aku naik ke surga kedua. Di sini aku melihat kedua sepupu* - Kristus dan Yohanes (Pembaptis).”

* Muhammad mungkin pernah mendengar dari orang-orang Kristen bahwa Yohanes Pembaptis dan Yesus adalah kerabat jauh (Lukas 1:36).
Dalam hal itu dia menempatkan Yesus dengan Yohanes di surga kedua, dia menempatkannya di bawah Musa dan Ibrahim. Ya – dia bahkan menaruhnya di bawah Yusuf, Henokh dan Harun. Dengan segala cara dia ingin merendahkannya dan membuatnya seperti Adam (Surah Al ‘Imran 3:59).

“Aku kemudian tiba di surga ketiga. Di sana ada seorang pria yang kelihatan seperti bulan purnama. Ketika aku menanyakan namanya, Jibril berkata kepadaku: ‘Itu adalah saudaramu Yusuf, anak dari Yakub.’”

“Kemudian dia membawaku ke surga keempat. Di sana aku kembali melihat seorang pria yang Jibril sebut sebagai Idris (Henokh – nabi yang abadi), yang kemudian menambahkan: ‘dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’ (Surah Maryam 19:57).”

“Dia kemudian memimpinku ke surga kelima. Di sana ada seorang pria yang sudah tua, dengan rambut putih dan panjang, jenggot putih. Aku belum pernah melihat pria yang sedemikian menarik. Aku bertanya tentang namanya dan Jibril berkata kepadaku, ‘itu adalah Harun, anak Imran dan dikasihi di antara umatnya.’”

“Di surga keenam, yang kemudian aku naiki, aku melihat seorang pria besar dengan hidung bengkok, seolah dia adalah dari suku Shanu’a. Aku bertanya kepada Jibril: ‘Siapakah pria ini?’ Dia menjawab: ‘Itu adalah saudaramu, Musa, anak ‘Imran.’”

“Dia kemudian mengijinkan aku naik ke surga ketujuh. Di sana duduk seorang pria yang kelihatan mirip sekali denganku, di atas takhta di depan gerbang firdaus, yang setiap harinya sebanyak 70,000 malaikat lewat dan tidak keluar sampai kepada hari kebangkitan. Aku bertanya kepada Jibril: ‘Siapakah pria ini?’ Dia menjawab: ‘Dia adalah ayahmu Ibrahim.’”

Dia kemudian membawaku ke firdaus. Di sana aku melihat seorang wanita muda berkulit gelap (budak, hamba) yang sangat menyenangkan aku. Aku bertanya dia milik* siapa, dan dia menjawab ‘Zaid ibn Haritha,’ dan aku membawa kabar suka cita ini kepada Zaid.”

* Ini menarik bahwa kali ini Muhammad tidak bertanya secara langsung tentang orang tersebut tetapi tentang pemiliknya – karena berhubungan dengan seorang wanita! Zaid, anak angkat Muhammad, adalah pria dewasa pertama yang menerima Islam.
Kemuridan Muhammad mendatangi Zainab, istri Zaid, tanpa sadar, ketika Zainab sedang mandi dan, berdasarkan sebuah wahyu khusus, menikahinya – setelah Zaid menceraikannya (Surah al-Azhab 33:35, 37, 50).

Menurut tradisi dari Abd Allah ibn Mas‘ud, Jibril ditanya pada setiap pintu surga yang ia ingin masuki, siapakah yang bersama-sama dengan dia. Ketika ia menyebutkan nama Muhammad, dia akan ditanyakan apakah Muhammad telah dikirim sebagai seorang nabi, dan begitu Jibril menjawab pertanyaan itu dengan mengiyakan, terdengar seruan: “Kiranya Allah mengirimkan kepadanya sambutan dari teman-teman dan saudara laki-lakinya!”

Setelah ia tiba di surga ketujuh, Jibril memimpinnya kepada Tuannya,* yang kemudian menetapkan baginya lima puluh kali tindakan shalat.**

* Quran dan Hadis sendiri tidak pernah mendeskripsikan Allah di dalam sebuah penglihatan. Mereka tidak mengakui penampilan Tuhan yang mulia dan tidak memiliki pengetahuan tentang Kerubim. Muhammad tidak roboh dalam ketakutan di harapan kesucian Allah. Itu adalah indikasi bahwa, dalam realita, dia tidak pernah melihat Allah, tetapi, disesatkan dan dibodohi oleh sebuah mimpi. Islam tidak mengijinkan gambaran Allah, karena Dia tidak dapat digambarkan. Tidak ada yang tahu siapa dia tahu bagaimana rupanya. Di dalam Islam manusia tidak diciptakan di dalam rupa Allah, tetapi adalah budak Allah. Allah tetap berada di kejauhan, besar dan Allah yang tidak dikenal – yang tidak seorangpun dapat berhadap untuk dapat meraih atau mengertinya.
Namun, di dalam Alkitab, beberapa penglihatan tentang Allah yang suci dan mulia diberikan. Siapapun yang melihatnya akan gemetar hebat dan terjatuh, seolah mati, ke tanah (Yesaya 6:1-8; Yehezkiel 1:4 - 2:1; Kisah Para Rasul 9:4; Wahyu 1:17; 4:1-3; 5:6-8).
** Buah dari perjumpaan yang seharusnya terjadi antara Muhammad dan Allah bukanlah kasih karunia, yang memimpin kepada keselamatan. Juga tidak membawa sebuah penyesalan atau pertobatan yang dalam dalam diri Muhammad, juga bukan sebuah peringatan akan penghakiman Allah yang datang bersamanya. Penglihatan itu memiliki satu efek tunggal untuk memperkuat perilaku legalistik dasar Muhammad dan mempromosikan penyembahan yang meningkat. Itu menunjukkan bahwa Allah adalah pertama-tama dan terutama seorang pemberi hukum dan seorang hakim untuk disembah. Namun, dia bukan seorang Bapa yang mengasihi atau seorang penyelamat yang mengorbankan diri sendiri seperti Yesus.

Muhammad kemudian menyatakan: “Dalam perjalanan kem-bali aku berjumpa dengan Musa, tuanmu yang baik, dan ia bertanya kepadaku berapa banyak doa yang telah ditetakan untukku. Aku menjawab, ‘Lima puluh per hari’. Dia kemudian berkata: ‘Begitu banyak putaran doa akan melelahkan, dan rakyatmu lemah. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonkanlah kepadanya untuk mempermudah bagimu dan rakyat-mu.’ Aku mengikuti petunjuk ini dan angkanya dikurangi sepuluh.”

“Namun Musa merasa empat puluh masih terlalu banyak dan menganjurkan aku untuk meminta pengurangan lebih lanjut. Kembali sebanyak sepuluh kali dihapus.”

“Namun, Musa merasa masih terlalu banyak. Aku kembali lagi begitu sering sampai akhirnya hanya lima kali shalat yang ditetapkan bagiku setiap hari.”*

* Catatan mediasi Muhammad merepresentasikan refleksi Islam tentang perantaraan Ibrahim untuk rakyat dari kota Sodom dan Gomorra (Kejadian 18:16-33). Ibrahim memohon agar orang jahat dipertahankan dan dimohonkan demi sejumlah kecil orang benar sebagai kondisi agar kota-kota tersebut diampuni. Namun, dengan Muhammad, hal itu tidak termasuk keselamatan dari pengikut-pengikutnya, tetapi hanya berhubungan dengan kemudahan bagi Muslim di dalam tugas-tugas keagamaannya. Hasil dari mediasi Muhammad bukanlah pengampunan orang-orang berdosa, tetapi sebuah kompromi di dalam pemberian hukum, yang berakhir dengan sebuah penyembahan yang lebih nyaman untuk pahala yang sama. Selain dari itu tidak ada hal lain yang keluar dari penglihatannya akan sebuah perjalan surgawi.

“Ketika Musa kembali mencoba memintaku untuk kembali, aku berkata: ‘Sekarang karena aku telah meminta sedemikian banyak kemudahan, aku malu untuk kembali melakukannya. Siapapun yang melaksanakan kelima kali shalat harian ini dalam iman dan dengan pengharapan akan pahala akan sungguh-sungguh menerima pahala dari lima puluh shalat, sama seperti ketetapan aslinya.’”

* Yang disebut sebagai perjalanan surgawi Muhammad (al-miraj) mewakili sebuah subyek yang sangat kontroversial bagi para teolog Islam. Beberapa berpendapat bahwa Muhammad melakukan perjalanan itu secara badani, sementara yang lain, mengambil dukungan mereka dari sebuah tradisi dari Aisha, percaya bahwa perjalanan tersebut hanyalah sebuah mimpi Muhammad, yang mana ia menemukan dirinya berada di Yerusalem hanya di dalam roh.

3.03.4 -- Bagaimana Allah menghalangi para pencemooh dari melakukan hal yang berbahaya

Selain daripada semua cemooh, semua hinaan, dan apakah orang menyebut dia pembohong atau tidak, Muhammad secara terus menerus mengingatkan para pengikutnya dalam pengharapan akan pahala Allah. Sebagaimana dikatakan kepadaku oleh Sa‘id ibn Rumman dari ‘Urwa ibn al-Zubair, ada lima orang perkaya dan terpandang yang adalah pencemooh paling jahat: al-Aswad ibn al-Muttalib dari Bani Asad. Sebagaimana aku dengar, Muhammad – ketika ia mendengar kabar tentang ejekan kejinya – telah berdoa: “Allah! Buatlah ia buta dan bunuhnya putranya!”*

* Kutukan Muhammad keluar dari roh pembalasan yang menerobos lagi dan lagi di dalam Islam. Namun, Yesus menyembuhkan orang buta dan mem-peringatkan para pencemooh. Di sini perbedaan fundamental dari roh di dalam Injil dan di dalam Quran menjadi terlihat.

Jazid ibn Rumman menceritakan tentang Urwa ibn al-Zubair: “Jibril mendatangi Muhammad pada saat para pencemooh berkeliling di sekitar tempat penyembahan. Muhammad berdiri dan menempatkan diri di sampingnya. Ketika al-Aswad ibn al-Muttalib datang, Jibril mendorong selembar daun hijau ke mukanya, dan dia menjadi buta.”*

* Malaikat Jibril memanifestasikan dirinya di dalam Islam sebagai seorang malaikat penghakiman dan sebagai penolong Muhammad, dengan tujuan untuk menjalankan niatnya untuk balas dendam. Jibril bukanlah utusan dari kasih karunia Allah yang memberkati dan menyelamatkan. Ini adalah pemutarbalikan! Muhammad tidak memiliki gagasan tentang keagungan dan kemegahan spiritual dari malaikat-malaikat Allah.

“Al-Aswad ibn Abd Jaghuth kemudian datang. Dia (Jibril) kemudian menunjuk ke tubuhnya, dan dia menjadi sakit basal, yang akhirnya ia meninggalkan karena penyakit ini.”

“Kemudian al-Walid ibn al-Mughira datang. Jibril menunjuk kepada luka lama yang berada di tumit, yang ia derita dari beberapa tahun sebelumnya. Penyakit itu menjadi lebih parah, dan dia mati karenanya. Lalu al-‘As ibn Wa’il datang. Jibril menunjuk kepada tapak kakinya. Tidak lama dia mengendarai seekor keledai menuju Ta’if. Keledai tersebut merebahkan diri di atas semak belukar yang berduri dan sebuah durinya menembus tapak kaki al-‘As, lalu ia meninggal. Akhirnya al-Harith ibn Tulatila datang, dan Jibril menunjuk kepada kepalanya, yang kemudian mulai bernanah pada titik yang ditunjuk, sampai ia meninggal.”*

* Laporan yang demikian mengimplikasikan ada sihir hitam yang terlibat, seperti ajakan untuk bertarung doa di dalam Surah Al ‘Imran 3:61, di mana Muhammad ingin menjatuhkan kutukan Allah atas orang-orang Kristen karena mereka tidak mau menerima Islam.
Namun, Yesus memerintahkan para muridnya untuk memaafkan musuh-musuh mereka dari dosa-dosa mereka, untuk memberkati mereka dan berbuat baik bagi mereka (Matius 6:14-15). Berkat dari Yesus lebih kuat dari kutukan dari Allah (Yohanes 16:33; Roma 8:31-39).

3.03.5 -- Kematian Abu Talib dan Khadija (sekitar 619 M)

Pria-pria yang menyiksa Muhammad di dalam rumahnya adalah Abu Lahab, al-Hakam ibn Abi al-‘As, Uqba ibn Abi Muit, Adi ibn Hamra al-Thaqafi dan Ibn al-Asda al-Hudhali. Mereka adalah tetangganya.

Dari semua pria tersebut hanya al-Hakam yang belakangan memeluk agama Islam. Sebagaimana diberitahukan kepadaku, salah satu dari mereka melemparkan rahim kambing ke atas Muhammad pada saat dia sedang berdoa, yang lainnya melemparkan rahim ke dalam panci yang biasanya digunakan untuk memasak untuk dia. Akhirnya, supaya ia aman, Muhammad harus berdoa di dalam ruangan yang tertutup. Seperti aku diberitahu oleh Umar ibn Abd Allah, Muhammad akan menambil sampah itu dengan sebuah tongkat dan membawanya keluar dari pintu lalu berteriak: “O, engkau anak-anak Abd Manaf! Betapa lingkungan yang indah yang saya nikmati!” Kemudian ia melempar sampah itu ke samping.

Lalu tibalah saatnya Abu Talib dan Khadija meninggal di tahun yang sama.* Muhammad harus menghadapi pukulan yang mengerikan karena tragedi yang demikian, karena Khadija telah memberikan kepadanya dukungan yang setia di dalam Islam, dan dia menemukan penghiburan darinya, dan Abu Talib telah membela dan melindunginya dari sukunya sendiri. Keduanya meninggal tiga tahun sebelum emigrasi ke Medinah.

* Sampai dengan kematian Abu Talib dan Khadija, Muhammad telah – dan bersamanya keseluruhan Islam – dipelihara dan didukung oleh kekuatan dari suku, yang tugasnya adalah untuk melinduginya. Ketika perwakilan dari perlindungan suku itu meninggal di tahun yang sama, Muhammad ditinggal tanpa pertahanan dan menjadi seorang penjahat. Islam bertumbuh dan dikuatkan di bawah perlindungan dari suku Arab.
Namun Yesus, tidak memiliki suku untuk melindunginya. Para saudaranya memisahkan diri mereka dari-Nya sejak awal. Yesus menjadi seorang pengungsi dan beberapa kali harus menarik diri ke daerah yang asing (Phoenicia dan kesepuluh kota lainya), sampai ia dengan tegas dan sengaja menatapkan wajah-Nya untuk pergi ke Yerusalem, di sana untuk mati sebagai Domba Allah bagi seluruh manusia (Matius 12:46-50; Yohanes 7:3-10).

Setelah kematian Abu Talib, suku Quraish memperlakukan Muhammad dengan buruk dengan perlakuan yang mereka tidak akan pernah berani lakukan di masa Abu Talib. Satu orang melakukan hal yang keterlaluan dengan menuangkan abu di atas kepalanya. Muhammad masuk ke dalam kediamannya dan dengan abu yang tetap ada di kepalanya. Salah satu putrinya berteriak ketika ia membersihkan kotoran tersebut dari kepalanya. Namun Muhammad berkata kepadanya: “Janganlah menangis, putriku yang kekasih; Allah akan melindungi ayahmu.” Pada saat-saat di antaranya dia akan berkata: “Selama Abu Talib hidup, suku Quraish tidak dapat melakukan apapun kepadaku.”

3.04 -- TES

Pembaca yang budiman,
Jika Anda telah mempelajari buku ini dengan seksama, Anda akan dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Barangsiapa yang mampu menjawab 90% pertanyaan dari 11 jilid seri ini dengan benar akan menerima sebuah sertifikat dari kantor pusat kami sebagai penghargaan atas:

Studi Lanjutan
mengenai kehidupan Muhammad di bawah terang Injil

- sebagai sebuah penyemangat untuk pelayanan bagi Kristus di masa depan.

  1. Bagaimana Umar ibn al-Khattab memeluk agama Islam?
  2. Mengapa Surah tentang penghujatan (al-Kafirun) diwahyukan?
  3. Hubungan seperti apa yang Muhammad miliki dengan pamannya, Abu Lahab? Bagaimana hal ini kemudian muncil di dalam sebuah Surah di dalam Quran?
  4. Apa yang Muhammad ungkapkan tentang surga dan neraka?
  5. Apa yang para pengikut Muhammad katakan setelah mereka kembali dari pelarian mereka ke Etiopia?
  6. Mengapa pelarangan atas Bani Hashim dan Bani Muttalib terhadap dan para pelindunganya dicabut?
  7. Bagaimana Muhammad memualafkan Rukana?
  8. Apa yang dikatakan oleh utusan orang Kristen dari Etiopia ketika mereka tiba di Mekah?
  9. Apa yang terjadi di antara Muhammad dan Jabr sang Kristen?
  10. Apa pernyataan paling penting di dalam Surah al-Kautsar?
  11. Apa yang anda ketahui tentang cerita perjalanan malam hari Muhammad ke surga ketujuh? Apa pendapat anda tentang hal ini?
  12. Bagaimana Muhammad digambarkan?
  13. Bagaimana Allah menghalangi para pencemooh dari melakukan tindakan berbahaya?
  14. Mengapa Muhammad menderita setelah kemadian Abu Talib dan Khadija?

Setiap peserta yang mengambil bagian dalam tes ini diijinkan untuk memanfaatkan buku yang tersedia atapun bertanya kepada orang yang ia percaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Kami menantikan jawaban tertulis anda, termasuk alamat lengkap Anda pada selembar kertas atau e-mail. Kami berdoa kepada Yesus, Tuhan yang hidup, bagi Anda, bahwa Ia akan memanggil, memimpin, menguatkan, memelihara dan menyertai anda setiap hari dalam kehidupan anda!

Dalam persatuan dengan Anda dalam pelayanan untuk Yesus,
Abd al-Masih dan Salam Falaki.

Kirimkanlah jawaban Anda ke:
GRACE AND TRUTH
POBox 1806
70708 Fellbach
Germany

Atau melalui e-mail ke:
info@grace-and-truth.net

www.Grace-and-Truth.net

Page last modified on December 12, 2018, at 01:35 PM | powered by PmWiki (pmwiki-2.2.109)